Islamic Video

Jumat, 06 Februari 2009

khutbah


Keutamaan shalawat kepada Sayyidul Basyar SAW

Sesungguhnya Allah dengan segala kekuasaan-Nya telah mengutus nabi-Nya Muhammad dan telah memberinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah.


Allah SWT telah menjadikannya rahmat bagi seluruh alam dan pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa serta menjadikannya orang yang dapat memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Seorang hamba harus mentaatinya, menghormati dan melaksanakan hak-haknya. Dan di antara hak-haknya adalah Allah mengkhususkan baginya sholawat dan memerintahkan kita untuk itu di dalam kitab-Nya yang agung (Al-Qur’an) dan Sunnah nabi-Nya yang mulia (Hadits).


Orang yang yang bersholawat untuknya akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan itu. Dan karena masalah ini memiliki urgensi yang sangat besar dan pahala yang besar pula, maka kami merasa perlu untuk mengeluarkan tulisan-tulisan sederhana ini, yang di dalamnya terdapat motivasi untuk memperbanyak sholawat dan salam untuk nabi dan rasul yang paling mulia ini.


Ya Allah! Berilah Sholawat dan Salam atas nabi dan kekasih-Mu Muhammad selama siang dan malam yang silih berganti.



Pengertian Sholawat dan Salam atas nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:



Allah subhaanhu wa ta’aala berfirman:


} إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {


“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)


Ibnu Katsir-Rahimahullah- berkata: “Maksud ayat ini adalah bahwa Allah subhaanhu wa ta’aala mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bersholawat untuknya, lalu Allah subhaanhu wa ta’aala memerintahkan makhluk-makhluk yang ada di bumi untuk bersholawat dan salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah.”


Ibnul Qoyyim -Rahimahullah- berkata dalam buku “Jalaul Afham”: “Artinya bahwa jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk rasul-Nya, maka hendaklah kalian juga bersholawat dan salam untuknya karena kalian telah mendapatkan berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat.”


Banyak pendapat tentang pengertian Sholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam


, dan yang benar adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abul Aliyah: “Sesungguhnya Sholawat dari Allah itu adalah berupa pujian bagi orang yang bersholawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat” -Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shohihnya dengan komentar yang kuat- Dan ini adalah mengkhususkan dari rahmat-Nya yang bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.


Salam: Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan sholawat maka kitapun mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari kekurangan dan dengan sholawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi dan lebih sempurna. Demikian yang dikatakan oleh Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.



Hukum Sholawat Untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam


Menurut madzhab Hanbaliy, sholawat dalam tasyahhud akhir itu adalah termasuk di antara rukun-rukun sholat.


Al-Qodhi Abu Bakar bin Bakir berkata: “Allah subhaanhu wa ta’aala telah mewajibkan makhluk-Nya untuk bersholawat dan salam untuk nabi-Nya, dan tidak menjadikan itu dalam waktu tertentu saja. Jadi yang wajib adalah hendaklah seseorang memperbanyak sholawat dan salam untuk beliau dan tidak melalaikannya.”



Saat-Saat Yang Disunnahkan dan Dianjurkan Membaca Sholawat dan Salam Untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:



1. Sebelum berdoa:


Fadhalah bin ‘Abid berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholatnya, tetapi tidak bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa” Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya dan kepada yang lainnya:


((إذَا صَلَّى أحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيهِ ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ))


“Bila salah seorang di antara kalian sholat (berdoa) maka hendaklah ia memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah lalu bersholawat untuk nabi, kemudian berdoa setelah itu dengan apa saja yang ia inginkan.” [H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Hakim]


Dalam salah satu hadits disebutkan:


((الدُّعَاءُ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلِّيَ الدَّاعِي عَلَى النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم ))


“Doa itu terhalangi, hingga orang yang berdoa itu bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” [H.R. Thabarani]


Ibnu ‘Atha berkata: “Doa itu memiliki rukun-rukun, sayap-sayap, sebab-sebab dan waktu-waktu. Bila bertepatan dengan rukun-rukunnya maka doa itu menjadi kuat, bila sesuai dengan sayap-sayapnya maka ia akan terbang ke langit, bila sesuai dengan waktu-waktunya maka ia akan beruntung dan bila bertepatan dengan sebab-sebabnya maka ia akan berhasil.”


Adapun rukun-rukunnya adalah menghadirkan hati, perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, dan ketergantungan hati kepada Allah, sayap-sayapnya adalah jujur, waktu-waktunya adalah di saat sahur dan sebab-sebabnya adalah sholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.



2. Ketika menyebut, mendengar dan menulis nama beliau:


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((رَغَمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))


“Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]



3. Memperbanyak sholawat untuknya pada hari Jum’at:


Dari ‘Aus bin ‘Aus berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((إنَّ أفْضَلَ أيَّامِكُمْ يَوُمُ الجُمْعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ ...))


“Sesungguhnya di antara hari-hari yang paling afdhal adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah sholawat untukku pada hari itu, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku......” [R. Abu Daud, Ahmad dan Hakim]



4. Sholawat untuk nabi ketika menulis surat dan apa yang ditulis setelah Basmalah:


Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Inilah saat-saat yang tepat untuk bersholawat yang telah banyak dilakukan oleh umat ini tanpa ada yang menentang dan mengingkarinya. Dan tidak pula pada periode-periode awal. Lalu terjadi penambahan pada masa pemerintahan Bani Hasyim -Daulah ‘Abbasiah- lalu diamalkan oleh umat manusia di seluruh dunia.”


Dan di antara mereka ada pula yang mengakhiri bukunya dengan sholawat.



5. Ketika masuk dan keluar mesjid:


Dari Fatimah -Radhiyallahu ‘Anha- berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila anda masuk mesjid, maka ucapkanlah:


((بِسْمِ اللهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لَنَا وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ))


”Dengan nama Allah, salam untuk Rasulullah, ya Allah sholawatlah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, ampunilah kami dan mudahkanlah bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu.”


“Dan bila keluar dari mesjid maka ucapkanlah itu, tapi (pada penggalan akhir) diganti dengan:


((وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ فَضْلِكَ))


“Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi]



Cara Sholawat dan Salam Untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam


Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman:


} إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {


“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)


Jadi yang utama adalah dengan menggandengkan sholawat dan salam bersama-sama, dengan harapan agar doanya dapat dikabulkan oleh Allah shallallahu ‘alaihi wasallam Inilah bentuk sholawat dan salam untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam Dari Abi Muhammad bin ‘Ajrah -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bersholawat untukmu?” Maka beliau bersabda: “Katakanlah:


((اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))


“Ya Allah! Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafqun ‘Alaihi]


Dan dari Abi Hamid As-Sa’id -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kami bersholawat untukmu? Beliau menjawab: “Katakanlah:


((اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))


“Ya Allah! Berilah sholawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]


Kedua hadits ini menunjukkan bentuk sholawat yang sempurna untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.



Keutamaan Sholawat dan Salam Untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam


Dari Umar -Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((إذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِي الوَسِيلَةَ فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأرْجُو أنْ أكُونَ هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ))


“Jika kalian mendengar orang yang adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan dan bersholawatlah untukku karena barangsiapa yang bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah (kedudukan mulia di surga) untukku, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yang memohon untukku wasilah maka ia berhak mendapatkan syafa’at.” [H.R. Muslim]


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي))


“Barangsiapa yang bersholawat untukku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [H.R. Thabarani]


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))


“Barangsiapa yang bersholawat atasku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad dan perawi hadits yang tiga]


Dan dari Abdurrahman bin ‘Auf -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Saya telah mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia sedang sujud dan memperpanjang sujudnya. Beliau bersabda:“Saya telah didatangi Jibril, ia berkata: “Barangsiapa yang bersholawat untukmu, maka saya akan bersholawat untuknya dan barangsiapa yang memberi salam untukmu maka saya akan memberi salam untuknya, maka sayapun bersujud karena bersyukur kepada Allah.” [H.R. Hakim, Ahmad dan Jahadhmiy]


Ya’qub bin Zaid bin Tholhah At-Taimiy berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah datang kepadaku (malaikat) dari Tuhanku dan berkata: “Tidaklah seorang hamba yang bersholawat untukmu sekali kecuali Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” Maka seseorang menuju kepadanya dan bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah saya jadikan seperdua doaku untukmu?” Beliau menjawab: “Jika anda mau”. Lalu bertanya: “Apakah saya jadikan sepertiga doaku?” Beliau bersabda: “Jika anda mau” Ia bertanya: “Kalau saya jadikan seluruh doaku?” Beliau bersabda: “Jika demikian maka cukuplah Allah sebagai motivasi dunia dan akhiratmu.” [H.R. Al-Jahdhami, Al-Albani berkata: “Hadits Mursal dengan Isnad yang Shohih]


Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((إنَّ للهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ يُبَلِّغُونَنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ))


“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” [H.R. Nasa’i dan Hakim]


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, diampuni sepuluh dosa-dosanya dan diangkat baginya sepuluh derajat.” [H.R. Ahmad dan Bukhari, Nasa’i dan Hakim dan ditashih oleh Al-Albani]


Hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud: “Manusia yang paling utama di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan berkata: “Hasan ghorib dan H.R. Ibnu Hibban]


Dari Jabir bin Abdullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengarkan adzan membaca:


((اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ))


“Ya Allah! Tuhan pemilik adzan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan fadhilah dan bangkitkanlah ia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan untuknya.”


Maka ia berhak mendapatkan syafa’at pada hari kiamat.” [H.R. Bukhari dalam shohihnya]



Celaan Bagi Yang Tidak Bersholawat Untuk Nabi.



Dari Abu Huraerah -Radhiyallahu ‘Anhu-­ berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Celakalah seseorang yang jika namaku disebut di sisinya ia tidak bersholawat untukku, celakalah seseorang, ia memasuki bulan Ramadhan kemudian keluar sebelum ia diampuni, celakalah seseorang, kedua orang tuanya telah tua tetapi keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” Abdurrahman salah seorang perawi hadits dan Abdurrahman bin Ishak berkata: “Saya kira ia berkata: “Atau salah seorang di antara keduanya” [H.R. Tirmidzi dan Bazzar]


Dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((البَخِيلُ كُلَّ البُخْلِ الَّذِي ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))


“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabaraniy]


Dari Ibnu Abbas, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


((مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ خُطِئَ طَرِيقَ الجَنَّةَ))


“Barangsiapa yang lupa mengucapkan sholawat untukku maka ia telah menyalahi jalan surga.” [Telah ditashih oleh Al-Albani]


Dari Abu Hurairah, Abul Qosim bersabda: “Suatu kaum yang duduk pada suatu majelis lalu mereka bubar sebelum dzikir kepada Allah dan bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Allah akan menimpakan kebatilan atas mereka, bila Ia menghendaki maka mereka akan disiksa dan bila Ia menghendaki maka mereka akan diampuni.” [H.R. Tirmidzi dan mentahsinnya serta Abu Daud]


Diriwayatkan oleh Abu Isa Tirmidzi dari sebagian ulama berkata: “Jika seseorang bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sekali dalam suatu majelis, maka itu sudah memadai dalam majelis tersebut.”



Faedah dan Buah Sholawat Untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:



Ibnul Qoyyim menyebutkan 39 manfaat sholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah sebagai berikut:


1.Melaksanakan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala


2.Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yang membaca sholawat satu kali.


3.Ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejahatan.


4.Diangkat baginya sepuluh derajat.


5.Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dengan sholawat, dan doanya akan naik menuju kepada Tuhan semesta alam.


6.Penyebab mendapatkan syafa’at shallallahu ‘alaihi wasallam bila diiringi oleh permintaan wasilah untuknya atau tanpa diiringi olehnya.


7.Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.


8.Dicukupi oleh Allah apa yang diinginkannya.


9.Mendekatkan hamba dengan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari kiamat.


10.Menyebabkan Allah dan malaikat-Nya bersholawat untuk orang yang bersholawat.


11.Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sholawat dan salam orang yang bersholawat untuknya.


12.Mengharumkan majelis dan agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan menyesal pada hari kiamat.


13.Menghilangkan kefakiran.


14.Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bersholawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika namanya disebut.


15.Orang yang bersholawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di antara penghuni langit dan bumi, karena orang yang bersholawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati dan memuliakan rasul-Nya, maka balasan untuknya sama dengan yang ia mohonkan, maka hasilnya sama dengan apa yang diperoleh oleh rasul-Nya.


16.Akan mendapatkan berkah pada dirinya, pekerjaannya, umurnya dan kemaslahatannya, karena orang yang bersholawat itu memohon kepada Tuhannya agar memberkati nabi-Nya dan keluarganya, dan doa ini terkabul dan balasannya sama dengan permohonannya.


17.Nama orang yang bersholawat itu akan disebutkan dan diingat di sisi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam seperti penjelasan terdahulu, sabda Rasul: “Sesungguhnya sholawat kalian akan diperdengarkan kepadaku.” Sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yang menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan bila namanya disebut dengan kebaikan di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.


18.Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath dan melewatinya berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samirah yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyib tentang mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Saya melihat seorang di antara umatku merangkak di atas Shirath dan kadang-kadang berpegangan lalu sholawatnya untukku datang dan membantunya berdiri dengan kedua kakinya lalu menyelamatkannya.” [H.R. Abu Musa Al-Madiniy]


19.Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan bertambah dan berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yang melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai hatinya kecuali dengan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, dan keadaan lahir menunjukkan hal itu.


20.Akan mendapatkan petunjuk dan hati yang hidup. Semakin banyak ia bersholawat dan menyebut nabi, maka cintanyapun semakin bergemuruh di dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya penolakan terhadap perintah-perintahnya, tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yang dibawanya, bahkan hal tersebut telah tertulis di dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan dan berbagai jenis ilmu darinya. Ulama-ulama yang mengetahui dan mengikuti sunnah dan jalan hidup beliau, setiap pengetahuan mereka bertambah tentang apa yang beliau bawa, maka bertambah pula cinta dan pengetahuan mereka tentang hakekat sholawat yang diinginkan untuknya dari Allah.



Shalawat dan salam untuk nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, sampai akhir zaman. Amin

Senin, 02 Februari 2009

AlQur'an Qs. Yusuf : 1-10

In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful
الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ
'Alif-Lām-Rā Tilka 'Āyātu l-Kitābi Al-Mubīni
12.1. Alif, laam, raa [741]. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an) yang nyata (dari Allah).[741]. Lihat not no. 10.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
'Innā 'Anzalnāhu Qur'ānāan `Arabīyāan La`allakum Ta`qilūna
12.2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَـذَا الْقُرْآنَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ
Naĥnu Naquşşu `Alayka 'Aĥsana Al-Qaşaşi Bimā 'Awĥaynā 'Ilayka Hādhā Al-Qur'āna Wa 'In Kunta Min Qablihi Lamina Al-Ghāfilīna
12.3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَباً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
'Idh Qāla Yūsufu Li'abīhi Yā 'Abati 'Innī Ra'aytu 'Aĥada `Ashara Kawkabāan Wa Ash-Shamsa Wa Al-Qamara Ra'aytuhum Lī Sājidīna
12.4. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku [742], sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."[742]. Bapak Yusuf a.s. ialah Ya'qub putera Ishak putera Ibrahim a.s.

قَالَ يَا بُنَيَّ لاَ تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُواْ لَكَ كَيْداً إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Qāla Yā Bunayya Lā Taqşuş Ru'uyā Ka `Alaá 'Ikhwatika Fayakīdū Laka Kaydāan 'Inna Ash-Shayţāna Lil'insāni `Adūwun Mubīnun
12.5. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."

وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Wa Kadhalika Yajtabīka Rabbuka Wa Yu`allimuka Min Ta'wīli Al-'Aĥādīthi Wa Yutimmu Ni`matahu `Alayka Wa `Alaá 'Āli Ya`qūba Kamā 'Atammahā `Alaá 'Abawayka Min Qablu 'Ibrāhīma Wa 'Isĥāqa 'Inna Rabbaka `Alīmun Ĥakīmun
12.6. Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya ni'mat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu [743] sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[743] Dimaksud bapak disini kakek dan ayah dari kakek.

لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ
Laqad Kāna Fī Yūsufa Wa 'Ikhwatihi 'Āyātun Lilssā'ilīna
12.7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.

إِذْ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ
'Idh Qālū Layūsufu Wa 'Akhūhu 'Aĥabbu 'Ilaá 'Abīnā Minnā Wa Naĥnu `Uşbatun 'Inna 'Abānā Lafī Đalālin Mubīnin
12.8. (Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

اقْتُلُواْ يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضاً يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُواْ مِن بَعْدِهِ قَوْماً صَالِحِينَ
Aqtulū Yūsufa 'Awi Aţraĥūhu 'Arđāan Yakhlu Lakum Wajhu 'Abīkum Wa Takūnū Min Ba`dihi Qawmāan Şāliĥīna
12.9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik [744]."[744]. "Menjadi orang baik-baik "yaitu, mereka setelah membunuh Yusuf a.s. bertaubat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh.

قَالَ قَآئِلٌ مَّنْهُمْ لاَ تَقْتُلُواْ يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ
Qāla Qā'ilun Minhum Lā Taqtulū Yūsufa Wa 'Alqūhu Fī Ghayābati Al-Jubbi Yaltaqiţhu Ba`đu As-Sayyārati 'In Kuntum Fā`ilīna
12.10. Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat."
Sejarah Islam
Nasihat Amr Bin Ubayd Kepada Amirul Mukminin Ja’far
Pada masa Amirul Mukminin Abu Ja’far Al-Manshûr, hidup seorang ulama bernama ‘Amr bin ‘Ubayd. Dalam salah satu pertemuannya dengan Ja’far Al-Manshûr, ‘Amr bin ‘Ubayd berkata, “Amirul Mukminin, pada Hari Hisab nanti, seluruh penguasa akan dihadirkan di hadapan Mahkamah Yang Maha Agung dan Maha Adil. Mereka akan dimintai pertanggung jawaban dari setiap perbuatannya. Seluruh rakyat akan menjadi pendakwamu, sekaligus menjadi saksi atas segala amal perbuatanmu selama engkau berkuasa. Allah tidak akan ridha kepada dirimu, kecuali dengan keridhaan rakyat dan perbuatan baikmu. Oleh karena itu, hendaklah engkau berlaku adil terhadap rakyat menegakkan syariat agama Allah. Di belakangmu ada api yang menyala-nyala. Api itu selalu menanti pelaku kedzaliman sebagai bahan bakarnya.”

Selintas Sejarah Yahudi dan Zionisme


Hampir setiap umat Islam jika ditanya perasaannya tentang kaum Yahudi pasti akan menjawab dengan geram dan marah. Penyebabnya adalah penderitaan mahaberat umat Islam Palestina. Kejahatan kemanusian luar biasa Negara Israel menyebabkan mayoritas umat Islam membenci umat Yahudi. Kebencian dan permusuhan ini bisa dipahami, tapi tepatkah semua orang Yahudi dimusuhi? Tidak semua orang Yahudi mendukung berdirinya Negara Israel dan setuju dengan ideologi zionis, yang telah melakukan kezaliman terhadap rakyat Palestina.

Sejarah Hitam Yahudi


Sejak dahulu hubungan antara bangsa Yahudi dengan orang-orang yang beriman selalu diwarnai dengan pengkhianatan dan penipuan yang dilakukan oleh bangsa yahudi. Ketika rasulullah diutus sebagai rasulpun mereka tetap membangkang dan tidak mengakui rasulullah sebagai seorang nabi, padahal dalam kitab-kitab mereka telah jelas disebutkan tentang rasulullah.

Kenyangkan Perut Rakyat



Suatu ketika Utbah bin Farqad, Gubernur Azerbaijan di masa ?pemerintahan Umar bin Al-Khaththab disuguhi makanan oleh rakyatnya. ?Kebiasaan yang lazim kala itu. Dengan senang hati, gubernur menerimanya ?seraya bertanya, “Apa nama makanan ini?”? ?“Namanya habish, terbuat dari minyak samin dan kurma,“ jawab salah ?seorang dari mereka.?
Sang gubernur segera mencicipi makanan itu. Sejenak kemudian bibirnya ?menyunggingkan senyum. “Subhanallah! Betapa manis dan enak makanan ini. ?Tentu kalau makanan ini kita kirim ke Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab di ?Madinah, ia akan senang,” ujar Utbah. Kemudian, ia memerintahkan rakyatnya ?untuk membuat makanan tersebut dengan kadar yang diupayakan lebih enak.? Setelah makanan tersedia, sang gubernur memerintahkan anak buahnya ?untuk berangkat ke Madinah dan membawa habish untuk khalifah Umar bin Al-?Khaththab ra.. Dua utusan segera berangkat ke Madinah. Mereka menyerahkan ?makanan khas Azerbaijan itu pada Umar bin Al-Khaththab.
Sang khalifah segera ?membuka dan mencicipinya. ? ?“Makanan apa ini?” tanya Umar? ?“Makanan ini namanya habish. Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab ?salah seorang utusan.? ?“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan dapat menikmati makanan ini,” tanya ?Umar lagi.? ?“Tidak. Tidak semua bisa menikmatinya,” jawab utusan itu gugup?
Wajah sang khalifah langsung memerah pertanda marah. Ia segera ?memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali habish ke negrinya. ?Kepada gubernurnya ia menulis surat, “........Makanan semanis dan selezat ini ?bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan ?makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu.”?
Kisah yang diabadikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Manaqib ?Amirul Mukminin ini, memberikan pelajaran yang teramat berharga bagi umat ?Islam, khususnya para pemimpin.?
Umar bin Al-Khaththab telah memberikan pelajaran teramat berarti. ?Pemimpin harus memikirkan rakyat sebelum dirinya sendiri. Dalam kesempatan ?lain, Umar pernah menyatakan, “Saya orang pertama yang merasakan lapar ?kalau rakyat kelaparan dan orang terakhir yang merasakan kenyang kalau ?mereka kenyang.” (arnab) (dikutip dari buku BELAJAR DARI DUA UMAR, ?Kenyangkan Perut Rakyat oleh; Hepi Andi Bastoni)?

Kritik Ibnu Taimiyah Terhadap Sultan


Pernahkah para pembaca membaca artikel mengenai Ibnu Taimiyah dalam situs ini (kaunee.com)? Tulisan itu berjudul "Ibnu Taimiyah, Keilmuannya Mencapai Derajat Ijtihad Ilmu Dan Seni". Berikut ini mari kita simak kembali penggalan hidup beliau lainnya.
Riwayat Tokoh
Abdullah bin Zubeir

Oleh; A.Mulyadi.S.PDI
Ketika menempuh padang pasir yang panas bagai menyala dalam perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah yang terkenal itu, ia masih merupakan janin dalam rahim ibunya. Demikianlah telah menjadi taqdir bagi Abdullah bin Zubeir melakukan hijrah bersama Kaum Muhajirin selagi belum muncul ke alam dunia, masih tersimpan dalam perut ibunya …. Ibunya Asma, - semoga Allah ridla kepadanya dan ia jadi ridla kepada Allah - setibanya di Quba, suatu dusun di luar kota Madinah, datanglah saat melahirkan, dan jabang bayi yang muhajir itu pun masuklah ke bumi Madinah bersamaan waktunya dengan masuknya muhajirin lainnya dari shahabat-shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam … !

Khalid bin Walid


"ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.

Ibnu Katsir
Nama Lengkap
Nama lengkap beliau adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.

S aid bin ‘Amir Al Jumahi
Riwayat Tokoh
Oleh: A.Mulyadie HM.S.PDI
“Said bin ‘Amir Adalah Seorang yang Sanggup Membeli Akhirat dengan Dunia. Ia Adalah Orang yang Mendahulukan Allah Dan Rasul-Nya Daripada Siapapun.” (Ahli Sejarah)

Utsman bin Affan

Dia adalah dzu nurain (pemilik dua cahaya), orang yang pernah berhijrah dua kali sekaligus suami dari dua putri Rasulullah Saw. Dialah Utsman bin Affan ra. Sejarah kenabian tidak pernah mendapati orang yang menjadi menantu Rasulullah sebanyak dua kali selain Utsman bin Affan.
BERLINDUNG DARI SIFAT KIKIR
Artikel : A.Mulyadie.HM.S.PDI
“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir…!” Itulah kalimat yang terucap oleh Rasulullah Saw dalam doanya kepada Allah Ta’ala. (HR. Bukhari & Muslim)
Seseorang yang sadar dan membutuhkan rahmat Tuhannya, akan senantiasa berlindung dari sifat kikir. Sebab sifat tersebut amat merugikan bahkan membinasakan manusia.
Sedikitnya ada 3 kerugian yang akan dialami manusia saat dirinya dikuasai oleh sifat kikir atau pelit, dan hal itu tidak memberikan keuntungan sedikitpun baginya.
Pertama, ia akan jauh dari Allah Swt, yang berarti tidak akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Kedua, ia akan jauh dari manusia, sebab tidak seorang pun yang suka bergaul dengan manusia kikir. Ketiga, berpeluang masuk ke dalam neraka, sebab hidupnya tiada lagi berarti. Di mata Allah Swt ia hina dan bagi manusia ia dianggap sebagai lawan. (Al hadits)
Inilah sebuah kisah dari SEBUAH KAMPUNG menggambarkan bagaimana seorang yang bersifat kikir akan dibenci oleh manusia.
Pagi itu suasana kampung digemparkan oleh sebuah masalah. Masalah yang amat memalukan dan membuat muak banyak manusia. Diawali dengan kedatangan seorang pria. Pria ini terkenal dengan sifatnya yang amat kikir lagi tamak. Ia datang pagi-pagi sekali untuk mengadukan sebuah masalah.
“wahai tuan…, aku datang hendak mengadukan sesuatu padamu. Sebagai pimpinankampung ini, kiranya kau berhak memutuskan dengan adil!” Pria kikir itu memulai pembicaraan.
Silahkan utarakan apa yang kau inginkan, wahai pria!” sambut kepala kampung dengan suara berwibawa.
“Saya adalah seorang yang hidup berkecukupan. Aku mulai hidup dari ketiadaan. Sebab aku berjuang keras, maka akhirnya aku pun banyak memiliki harta. Sebagaimana tuan tahu bahwa tidak mudah untuk hidup sebagai manusia. Segalanya harus dengan biaya dan ada harganya.” Pria kikir itu mengutarakan.
Teruskan….!” kepala kampung mempersilakan.
Aku memiliki tetangga yang tinggal di sebelah rumah. Mereka adalah dua anak yatim yang telah lama ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Sejak orang tua mereka meninggal, tiada seorang pun yang berkenan menjamin hidup mereka. Hingga badan mereka kurus kering bagai tulang berbalut kulit saja.” Pria kikir itu menerangkan.
Dua bulan terakhir, aku dapati tubuh mereka bertambah gemuk. Aku coba menyelidiki. Tiada hal yang pasti mereka makan setiap hari. Aku pun berkesimpulan bahwa mereka menjadi gemuk sebab mencium aroma masakan dari rumahku. Menurutku, ini adalah sebuah bentuk pencurian. Kalau saja, tidak ada aroma masakan dari rumahku, tentulah badan mereka tidak menjadi gemuk” imbuhnya.
kepala kampung mengernyitkan mata tanda mencibir. Beliau dan seluruh orang yang mendengarkan penuturan pria kikir ini menjadi muak. Namun tuan mencoba untuk menguasai diri. Ia bertanya, “Lalu apa yang hendak engkau sampaikan...?!”
“Aku hendak meminta ganti rugi sebesar 1000 dinar kepada dua anak yatim itu, wahai tuan! Atau jika mereka tak mampu, keduanya akan aku jadikan budak dan kemudian aku jual di pasar!” Pria kikir itu berkata lantang tanpa surut.
kepala kampung bingung menyikapi hal ini. Ia meminta pendapat seluruh warga yang ada untuk memberikan masukan atas keputusan yang akan ia buat. Namun, semua warga terdiam. Mereka juga bingung dan tak memiliki sikap atas kasus ini.
Sungguh, mereka semua merasa benci terhadap pria kikir ini. Namun, mereka sendiri tidak mengerti hendak berkata apa?
Semua berdiam diri tak bergeming, hingga terdengarlah suara seorang pria yang tiada lain adalah seorang petani
“Pak..., izinkan saya untuk berbicara memberi pendapat!” kata petani. “Silahkan saja...!” kepala kampung menukas.“Menurutku, pria yang mengadukan masalahnya ini adalah benar adanya. Ia berhak menuntut ganti rugi sebesar 1000 dinar tersebut dari kedua anak yatim yang ia ceritakan. Bila keduanya tidak mau dijadikan budak kemudian dijual oleh pria ini, maka kiranya bapak berkenan untuk meminjamkannya terlebih dahulu dan izinkan aku untuk melakukan pembayaran.” pria itu menjelaskan.
kepala kampung masih belum mengerti maksud petani tadi. Semburat kebingungan terbias dari raut wajah beliau. Namun, beliau terpaksa mengiyakan pendapat petani saat beliau melihat kerlingan mata darinya tanda ada sebuah konspirasi yang hendak dibangun.
kepala kampung kemudian berkata, “Baiklah, aku akan pinjamkan uang sebanyak 1000 dinar itu pada kedua anak yatim tersebut.”
Alangkah gembiranya hati si pria kikir saat mendengar bahwa gugatannya dimenangkan. Terbayang dibenaknya bahwa sebentar lagi ia akan menerima uang sebanyak itu.
“Izinkan aku untuk menghadirkan kedua anak yatim itu, wahai bapak!” petani berkata sekali lagi.Beberapa orang wargakemudian diperintah untuk menjemput kedua anak yatim yang dimaksud. Sesampainya di kampung maka mereka pun didudukkan di kursi pesakitan. Warna wajah mereka memerah ketika semua orang di istana melemparkan pandangan penuh tuduhan kepada mereka.
Ruang di depan rupanya telah dibagi dua. Terpisah oleh sebuah tabir tipis transparan yang telah disiapkan. Pria kikir di tempatkan di sebelah kiri tabir, sementara kedua anak yatim di sebelah kanan. Petani lalu berdiri menghampiri kepala kampung. Ia bermaksud mengambil uang pinjaman sejumlah 1000 dinar yang kepala kampung janjikan. kepala kampung pun lalu memberikannya.
kepala kampung kemudian berkata, “Wahai wargaku...., dengan kemurahan hati kepala kampung meminjamkan uang sebesar 1000 dinar kepada kalian. Uang ini dipinjamkan, sebab bapak ini mengadukan bahwa kalian telah mencuri aroma makanan yang berasal dari rumahnya. Karena aroma masakan itu, kalian menjadi gemuk. Ia menuntut ganti rugi sebesar 1000 dinar atau kalau tidak kalian akan dijual sebagai budak!”
Kedua yatim itu terkejut mendengarnya, namun mereka tidak bisa berkata apapun.
Petani menambahkan, “Nah... sebelum uang ini diberikan kepada bapak itu... kalian harus terlebih dahulu menghitung uang dinar ini. Bapak yang ada di sebelah tabir pun boleh melihat dari balik tabir dan menghitung kebenaran jumlahnya. Sekarang..., mulailah melakukan penghitungan!”
“Satu... dua... tiga... empat puluh lima.... seratus delapan puluh satu....tujuh ratus sembilan puluh dua.... sembilan ratus sembilan puluh sembilan.... dan seribu!” kedua anak yatim itu merampungkan hitungan dan diikuti oleh pria kikir di balik tabir.
Pria kikir itu tersenyum bahagia. Ia senang dan membayangkan bahwa ia akan mendapatkan uang sebanyak itu sebentar lagi. Kemudian petani yang bertindak sebagai hakim meminta kembali uang itu dari kedua yatim tadi. Namun setelah uang itu ia terima, ia tidak menyerahkannya kepada pria kikir yang berdiri penuh harap. Uang itu malah dikembalikan kepada kepala kampung, dan penjaga istana itu berkata kepada raja, “Masalah telah selesai wahai paduka dan setiap pihak sudah mendapatkan haknya!”
Raja tersenyum. Ia tahu bahwa penjaga istana sedang membuat trik demi mengecoh emosi pria kikir tadi.Benar saja...., demi melihat uang dikembalikan dan mendengar apa yang baru diucapkan oleh penjaga istana, si manusia kikir langsung berteriak, “Wahai tuan, mana uang itu... mengapa tidak diberikan langsung kepadaku?!”
Petani berkata dengan nada bijak, “Bukankah engkau telah turut menghitungnya sehingga engkau merasa senang bahkan tersenyum saat penghitungan dilakukan? Engkau telah mendapatkan hakmu karena engkau telah merasa senang. Itu sama halnya dengan apa yang diterima oleh kedua yatim tersebut. Mereka menjadi gemuk sebab mereka senang karena telah mencium aroma masakan yang berasal dari rumahmu. Nah... sekarang pulanglah kalian semua. Masalah kalian telah kami selesaikan!”
Semua orang yang hadir di kampung baru mengerti apa yang dimaksud petani selama ini. Sorak-sorai riuh rendah terdengar bergemuruh dilapangan siang itu. Semuanya senang sebab kekikiran telah dikalahkan. Sementara pria kikir tadi berjalan pulang meninggalkan kampung itu dengan penuh rasa malu dan penyesalan.Demikianlah sekelumit hikmah yang menyatakan bahwa sifat kikir tiada memberi keuntungan apapun bagi pemiliknya. Karenanya, mohonkanlah perlindungan kepada Allah Swt agar senantiasa diri kita dijaga dari sifat tercela ini.
Terakhir, Allah Swt berpesan untuk kita semua hamba-Nya: “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Thaghabun, 64:16)
Ikhlas dalam Beribadah



Artikel - A.Mulyadi HM.S.PDI
Ikhlas adalah sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh manusia pelaku amal dan Allah Swt saja. Tiada yang tahu selain mereka berdua, bahkan malaikat pencatat amal maupun setan penggoda.
Ikhlas adalah dedikasi tulus demi mencari ridha Allah Swt, terbebas dari noda, keburukan dan niat jahat. Siapa yang beramal disertai dengan niat dan keinginan mencari tujuan selain Allah Swt maka amalnya akan gugur dan ia tidak akan mendapat balasan apapun dari Allah Yang Maha Pemurah.
Seperti dikemukakan dalam sebuah hadits qudsi:
Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Aku paling tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan dengan menyekutukan-Ku. Maka Aku akan meninggalkan dia dan sekutunya."
Dari sini kita dapat memahami bahwa Allah Swt Maha Pencemburu. Dia Swt tidak berkenan bila ada hambaNya yang beramal dengan tujuan selain Dia Swt. Karenanya, luruskan niatmu demi mencari keridhaanNya semata.
Ada sebuah ayat menarik dalam surat An Nahl yang dijadikan Allah Swt sebagai ilustrasi keikhlasan. Ayat itu berbunyi:"dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang murni bersih antara tahi (kotoran) dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya."
Silakan baca sekali lagi dan resapi maknanya! Mungkin Anda bertanya apa hubungan ayat ini dengan keikhlasan?! Hubungannya adalah bahwa Allah Swt menyebut susu atau laban dalam ayat itu digandeng dengan kata khalisan yang berarti murni/bersih/ikhlas.
Mengapa Allah menggunakan kata khalisan dalam urusan susu? Mungkin berikut ini jawabannya.
Izinkan saya mengajak Anda untuk berilustrasi. Suatu kesempatan Anda dan saya pergi ke sebuah peternakan sapi. Di sana kita diperbolehkan untuk memerah sapi. Susu yang diperah dikumpulkan di sebuah bejana khusus. Dan kita jadi mengerti karenanya bagaimana proses memerah susu sapi.
Namun saat susu itu dikumpulkan di bejana dan kita asyik memerahnya, tiba-tiba keluar dari puting susu tersebut setitik kotoran sapi atau darahnya. Celakanya, kotoran atau darah itu terjatuh pada bejana dimana susu itu dikumpulkan. Tentunya Anda merasa jijik membayangkan ilustrasi ini!
Bahkan Anda tatkala mengetahui proses pemerahan susu rupanya seperti itu, boleh jadi Anda akan bersumpah serapah bahwa Anda akan berhenti minum susu karena jijik. Dan hal itu akan Anda sampaikan juga kepada anak dan kenalan Anda yang suka meminum susu.
Itu hanyalah ilustrasi belaka! Jangan terlalu percaya, sebab insya Allah hingga saat ini proses pemerahan susu sapi maupun hewan lain tidak akan ternodai oleh kotoran maupun darah.
Namun yang hendak saya sampaikan adalah bahwa itulah alasan Allah Swt menggunakan kata khalisan yang berarti ikhlas / murni saat memaparkan susu.Kalau Anda merasa jijik dan tidak mau minum susu lagi bila tercampur setetes kotoran atau darah, mungkin demikian juga Allah Swt akan merasa jijik menerima ibadah yang kita lakukan untukNya, namun ada setitik niat lain yang terbersit pada hati kita. Naudzubillah!

Minggu, 01 Februari 2009

modul I agama islam class X

manusia sebagai kholifatullah dibumi Islam memandang nanusia sebagai kholifarillah di bumi ( QS,Al baqarah: 2:30 ) dalam ayat ini Allah dengan tegas disebutkan bahwa manusia merupakan Kholifatullah fil ardi ( wakil Allah dibumi ) . akan tetapi tentu tidak semua manusia bisa semua mendapatkam status sebagai wakil Allah, karena Allah Swt puncak segala kebaikan dan kesempurnaan.hanya manusia baik saja yang berhak menjadi kholifah Allah swt. Sebagai kholifah Allah, manusia diberi wewenang untuk mengatur dan memelihara kelestarian dan ketentraman alam dalam kontek inilah manusia memiliki tugas IMARAH dan RI'AYAH. Imarah adalah tugas untuk memakmurkan dunia , Ri'ayah yaitu menjaga dunia dari tangan-tangan yang ingin merusak kelestariannya. kriteria kholifatullah al: 1. Berilmu 2. Beriman dan beramal shaleh 3. memberi keputusan dengan benar dan idak mengikuti hawa mafsunya. Manusia makhluk yang paling sempurna peoses pemciptaan Manusia terdapat dalam AlQur'an QS;Al Mu'minun : 23/ 12-14 Tugas sebagai hamba Allah Swt dalil yang menjelaskan bahwa tugas Sebagai hamba Allah terdapat dalam surat Adzariyaat ; 56 . ( Yaitu untuk beribadah ). 1. Ibadah Qolbiyah
2.Ibadah badaniyah dam 3. ibadah Qauliyah